Bea Siswa Study di Jerman untuk semua!

Ferizal Ramli's Blog

hs_bremen_vp_540x235Dari celotehan di twitt saya yang saya copas disini https://twitter.com/ferizalramli :

1. Semua yg skolah di Jerman itu dpt bea siswa! Bedanya ada yg trima 50%, 100%, 200% ato malah 300% bea siswanya. Tapi yg pasti semua dapat!

2. Dapat bea siswa 50% berarti dia kuliah gratis di Jerman dg biaya hidup sendiri. Tapi yg pasti dia TIDAK bayar tution fee ratusan juta.

3. Dpt bea siswa 100%: stelah lulus daftar ZAV, lalu dicarikn kerja di tanah air, bayarkan tiket pulang n disubsidi 600 euro/bln slm 2 thn.

4. Dpt bea siswa 200% brarti, saat studi di Jerman anda dpt bea siswa mislkn DAAD, lulusnya pun dpt Subsidi ZAV 600 eur/bln slama 2 tahun.

5. Bea siswa 300% berarti dpt bea siswa DAAD, subsidi ZAV, slain itu saat kuliah praktikum di perush Jerman digaji antara 400-900 eur/bln

6. Bea Siswa 300%++ brarti dpt bea siswa DAAD, digaji saat prktikum, stelah…

View original post 43 more words

Advertisements

End of Summertime

Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, setiap hari minggu terakhir dibulan Oktober adalah hari dimana waktu berakhirnya jam-musim-panas dan berganti menjadi waktu musim dingin (hingga hari minggu terakhir dibulan maret nanti). Daylight saving time istilah keren yang sering dipake sama negara-negara yang menerapkan waktu musim panas ini. Jadi dari hari minggu kemaren (26.10) waktu dimundurkan jadi satu jam. Bisa baca di link tadi kalau mau tau apa alasan lengkapnya. Menurut saya, alasannya simple, musim dingin matahari keluar lebih telat, jadi dengan waktu aktivitas ditelatin satu jam (misal jam 7 jadi jam 6), jadi orang-orang bisa memulai aktivitas saat matahari sudah terbit. Ini artinya menghemat konsumsi energi (contohnya penggunaan listrik untuk penerangan).

Anyway, enough with the summer time theory. Akhirnya sabtu kemaren main bola lagi setelah beberapa bulan ga main. Bareng sama anak-anak Indonesia di sini.

DSC_0051Lumayan rame, 14 orang, mudah-mudahan bukan sekedar euforia awal semester,haha, dan seperti biasa, kalau udah rame gini, cuma satu hal diakhir yang diomongin “sportfest gimana?” (dikonkritin laah,biar ga cuma wacana). Berhubung cuaca udah mulai dingin, jadi main bola outdoor udah makin susah. Jadinya kemaren main indoor di soccer arena Olympiazentrum.

This slideshow requires JavaScript.

Minggu 26.10 juga kebetulan lagi ada acara pelatihan untuk orang tua dan anak, konon katanya narasumber yang datang kali ini sangat tersohor dibidang parenting : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, atau sering dipanggil abah Ihsan. Kebetulan ikutan bantuin untuk dokumentasi acara. Alhamdulillah acaranya rame, mayoritas peserta adalah pasangan suami-istri yang berasal dari Munich dan sekitar (Nürnberg dan Augsburg), bahkan ada juga peserta yang datang dari Austria.

DSC_0212Berhubung selama acara mondar-mandir motoin peserta dan pembicara, tapi masih sempet dengerin poin-poin penting dari seminar ini. Children are not and will never be a burden for their parents. They are a gift from Allah. Walaupun seminarnya dirancang untuk orang tua, sebenernya ini juga cocok untuk kita-kita yang belum berkeluarga, yah, yang namanya ilmu ga ada batasan sebenernya, hitung-hitung nambah wawasan dan referensi untuk masa depan nanti, toh at the end of the day, all of us are going to be parents (insha Allah).

*that’s it for this week, from now on, i will try to write from one to another weekend (harus konkrit,ga boleh wacana doang!)

Salzburg pt.2

Dan akhirnya,menginjakkan kaki lagi di tanah kelahiran Mozart ini. Tahun lalu ke Salzburg cuma berdua bareng si adit. Tahun ini kita “sekampung” ngedatengin Salzburg. 10 orang Indonesia, ya 10,pas untuk 2 Bayern Ticket. Pagi sekitar jam 9:30 kita kumpul di Munich Central Station. Tepat 9:55 kereta Meridian (berhubung dihari yang sama 18.10.2014 serikat pekerja Deutsche Bahn melakukan mogok kerja)  ninggalin Munich Hbf menuju Salzburg Hbf. Munich-Salzburg bisa ditempuh ca. 2 jam menggunakan kereta.

A group selfie somewhere in the middle of our trip

To be honest, with 10 persons on it, this trip even funnier and louder (of course) with 10 persons on it. And a group selfie is a must thing to do,haha. Sampai di Salzburg, cari tukang Döner buat beli bekal makan siang.

Tujuan selanjutnya : Mirabell garden. Jaraknya yang ga terlalu jauh (ca. 1 km) jadi enak untuk jalan kaki sambil nikmatin matahari yang udah mulai jarang muncul beberapa hari terakhir. Sampai di Mirabell garden, gelar tiker, langsung makan,haha. No, kita cari temapt duduk buat makan.

Berhubung semua pada makan dengan khusuk dan khidmat, jadi ga ada foto waktu makan. Ini beberapa foto setelah makan.
Habis makan, langsung masuk ke bagian utama dari Mirabell garden. Taman yang konon katanya pernah jadi set salah satu scene di film sound of music.

Abaikan foto pertama diatas, adit was trying very hard to replicate that famous “i’m feel freeee” pose. So, dari Mirabell garden kita lanjutin jalan ke Altstadt sebelum lanjutin ke Fortress Hohensalzburg.

Right after exploring the Altstadt, we finally reach the ground part of the city fortress. Dari sana kita naik kereta gantung buat sampai ke benteng yang ada di atas bukit ini. Dari benteng kita bisa ngeliatin kota Salzburg yang kebelah sama sungai Salzach.

When the weather permits.. New friends, new family!

A Perfect caption by Nadia. So, we asked one of the anonymous tourist who happens to be in the same place with us to take this picture with nadia’s camera.
Dari Hohensalzburg Fortress kita lanjutin jalan nyariin masjid buat sholat, ternyata mesjid yang pengen kita datengin itu pintunya kekunci. “Untungnya” di depan masjid yang kekunci itu ada toko turki dan penjaga toko ngasih tau kalau ada satu lagi masjid di pojokan jalan, akhirnya kita ga nemu pojokan itu :))).

Jadilah kita sholat ashar (jamak zuhur) di salah satu taman. sholat di injury time, ternyata setelah liat google maps, masjidnya cuma 700 m dari taman tempat kita sholat ini (koplak). Akhirnya kita putusin buat lanjutin jalan ke masjid. Disana istirahat bentar, lurusin kaki, lanjutin sholat maghrib (jamak isha) berjamaah. Dari masjid baru jalan lagi balik ke Hbf.
DSC_0105Yak,ini kita jalan balik ke Hbf, abaikan penampakan yang rada samar-samar melintas di depan kita.
At the end of the day, it was a very funny trip with a bunch of new friends (oo ya, welcome to Munich to the new fellow Münchner & Münchnerin). Around 20:30 our train left Salzburg heading back to Munich. And we already looking forward to have another trip together!!

 

Bella Venezia

Scooby Doo A Manace in Venice

Sabtu 13.09.2014 yang lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke Venezia. Salah satu kota di Italia yang sangat terkenal dengan sungai-sungai dan Grand Canal nya itu. Kalau dingat-ingat, waktu SD pernah nonton film karton Scooby Doo yang settingnya tepat di Venezia dimana Scooby cs disibukkan oleh hantu pengedara gondola. Itu memori pertama saya tentang kota air ini. Selanjutnya pengetahuan saya tentang kota ini tak lebih dari klub sepakbola Venezia yang sempat mentas di Serie A Italia pada akhir 90an dan awal 2000an. Setelah sebelumnya sering melihat kota ini di film-film produksi hollywood (Indiana Jones, Italian Job dan terakhir Casino Royale) akhirnya saya bisa melihat langsung keindahan Grand Canal dan Rialto Bridge ini secara langsung.

Singkat cerita, Venezia bisa dicapai dari Munich dengan beberapa cara : pesawat, kereta atau bus. Berhubung budget terbatas cara terakhir menjadi pilihan saya. Munich-Venezia-Munich bisa ditebus 46 Euro saja. Ada beberapa travel agent di Munich yang menyediakan bus untuk short trip satu hari ini. Total waktu tempuh sekitar 6-7 jam (tergantung kepadatan lalu lintas). Bus akan meninggalkan Munich tepat pada pukul 06:00 dan akan sampai di Venezia pada pukul 13:00. Biaya tambahan lain yang harus dibayarkan adalah pajak turis sebesar 4 Euro yang akan ditagih oleh sang supir.

Vaporetto aka Water Bus

Vaporetto aka Water Bus

Setiba di Venezia, kita bisa menggunakan Vaporetto atau bus air untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dengan membayar 20 Euro kita bisa mendapatkan tiket untuk 24 jam. Bus air ini beroperasi sepanjang hari, 24 jam tanpa berhenti dan siap untuk membawa kita bertualang mengarungi Grand Canal yang indah ini. Bangunan-bangunan tua di kanan-kiri kanal ini seperti sangat berjodoh dengan kanal yang mereka apit. Warna-warni cat gedung ini klop dengan warna air canal.
Salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi di Venezia adalah Basilica San Marco atau St. Marc’s Square. Dan tempat ini menjadi tempat terpadat yang saya temui selama berada disana. Banyak turis yang berhenti sekedar mengabadikan foto lapangan didepan gereja ini atau mereka yang sedang mengantri giliran untuk dapat masuk ke dalam gereja.

Salah satu waktu terindah di Venezia adalah ketika matahari tenggelam. Pastikan anda berada disekitar St. Marc’s Square pada momen ini. Golden sunset, mentari seakan sedang bercumbu dengan lautan denga latar bangunan-bangunan indah dengan kubah dari abad ke 15.

Need a break #brick #vsco #vscocam

A post shared by Ridho Irwansyah (@dhodhoreedho) on

Lupakan peta, jelajahi gang-gang yang ada di Venezia,anda tidak akat tersesat (well, in case tersesat baru buka peta :p). Gang-gang sempit dengan batu bata tua dari bangunan yang mengapitnya ini terlihat begitu indah. 15 bulan tinggal di Jerman, ini menjadi pemandangan yang sungguh berbeda bagi saya, Bellissimo! Untuk turis dengan budget ketat seperti saya, naik gondola sembil menikmati Venezia bukan jadi pilihan. Dengan tarif 80 euro untuk 40 menit, rasanya terlalu berat lembaran euro ini keluar dari kantong,haha. Well, maybe next time ada rezeki dan bisa cobain naik gondola disana.

Why joining Arsenal (might be) a perfect move for Danny Welbeck

I have to admit, it was kind of irritated me when i read the news about Danny Welbeck’s move to one of United rival. I can’t hide the fact that it would be ok for me (and maybe the entire United fans) to see him move for another team (Villa, Spurs or Sunderland).
His biggest problem at United was : never been given a chance to play as the main striker (center forward). He often deployed as a winger or a wide forward instead of his preferable position.
My biggest concern is : Arsene Wenger’s track record.
Remember this guy and his goal record before being saved by Wenger ?

Henry at Juventus

Henry was also often deployed as a left winger during his time at Juventus under Carlo Ancelotti. He only managed to score 3 goals during his 16 appearances with The Old Lady. And what happened after his move to the North London side was an epic story that has been written in Arsenal’s record book.
Now, look at Welbeck’s track record with United : 20 goals from 92 league matches. That was about 1 goal per 4.6 games. Not a bad record for a player who often played out wide instead of a center forward.
With Wenger’s ability to turn Henry into a player he was during his time at Arsenal. I’m afraid that he might be able to do the same thing with Welbeck as well.

Gortoz A Ran

11 years ago,I listened this song for the very first time when I was watching the Black Hawk Down movie. I don’t pay too much attention since two days ago when I was watching an Indonesian movie called : 99 Cahaya Di Langit Eropa which also has this song in one of its scene. The singers are Denez Prigent and Lisa Gerrard.

At first I thought it was in French, but later I found that this song is in Celtic language. Gortoz A Ran means I await or I’m waiting.

Tips Mencari Beasiswa

“Ilmu itu dari Allah, kalau dia mau ambil dari kita, dalam sepersekian detik dia bisa ambil dari kita” itu kata-kata salah seorang dosen di ruang kuliah dulu. Well, ga ada salahnya coba untuk share pengalaman mencari beasiswa (sebenernya ini terinspirasi dari tulisan salah seorang blogger yg direblog di bawah).

1. English is a must (don’t ask me why, ini udah kayak syarat wajib, mungkin mirip dengan syarat IPK minimal 3.00 waktu nyari kerja).
2. Mungkin caranya beda-beda untuk setiap negara, Eropa (selain UK) dan Jepang punya cara yang hampir sama untuk mencari beasiswa. Tahapan pertama adalah mencari calon pembimbing yang bersedia menyediakan tempat bagi kita untuk melanjutkan study. Ini butuh waktu memang, cara paling ampuh untuk memulai diskusi dengan calon pembimbing adalah : pelajari dia!. But how?, the easiest way will be : baca sebanyak mungkin publikasi yg pernah dia terbitkan (jurnal, buku, atau conference paper) coba ambil intisari dan benang merah dari beberapa publikasi yg dia terbitkan ini. Mulailah email dengan menceritakan intisari ini, dan sampaikan bahwa kita sangat tertarik dengan aktivitas risetnya. Lalu, tanyakan apakah beliah masih mengerjakan riset tersebut (hal ini sebagai pancingan untuk mengetahui apakah beliau akan menjawab “i have something else for you” atau “yes, there’s still ongoing research on that topic that you have mentioned”.
3. Ingat : tidak ada pattern pasti dalam mencari calon pembimbing. Setiap orang punya jalan yang unik. Ambillah pelajaran dari cerita yg ditulis oleh para blogger tentang bagaimana cara mereka mencari calon pembimbing dan beasiswa.
4. Kalau anda beruntung : si professor memiliki funding utk research dan bersedia meng-hire anda sebagai research assistant/associate dalam projectnya sehingga anda tidak perlu mencari beasiswa lagi.
5. Jika jawabannya tidak utk point 4, jangan takut, ada banyak beasiswa yang tidur diluar sana untuk anda bangunkan. jika sang professor sudah setuju untuk menerima anda untuk dibimbing, biasanya beliau akan menuliskan “letter of acceptance”. ini adalah modal awal untuk mencari beasiswa.
6. Saat mencari beasiswa, biasanya anda akan diminta menyiapkan proposal. ingat, di point dua anda sudah membaca beberapa publikasi dari calon pembimbing anda. ini bisa dijadikan dasar untuk menyusun research proposal.
7. Banyak-banyak doa & sedekah untuk melengkapi ikhtiar dalam melanjutkan sekolah.

Goodluck para pejuang beasiswa!