AFF Cup 2016 : Nothing to lose ?

Kayaknya AFF Cup tahun ini jadi yang paling beda dibanding dengan seri-seri AFF Cup yang udah-udah. Flashback dikit ke AFF Cup 2010, yang dapat soroton begitu besar dari media di tanah air dan harapan yang begitu besar dari supporter dan ending antiklimaks keok di final. Maka, it’s fair to say jika AFF Cup tahun ini lebih nyantai. Banyak faktor penyebab, salah satunya (pasti) media yang saat ini lebih mengarahkan frame kamera mereka untuk pilkada DKI (apaan banget sih ini, 2017 bakal ada 101 pilkada serentak padahal  [ref] ). Ok, thanks to all of the governor & vice governor candidates, Timnas Indonesia jadi ga terlalu banyak job tampil di media atau makan siang bareng politisi .

My personal prediction for this year will be : 2nd place at max. Tim Thailand yang jadi favorit juara sebenernya ga seserem dan sespesial tim Thailand yang dulu-dulu bisa bikin tim lawan udah ngerasa kalah duluan sebelum kick off. Pertandingan pembukaan kita sempat ngimbangin skor 2-2, tapi balik lagi masalah stamina dan defense yang ga terlalu rapi bikin kita kalah 4-2.

Tapi, apapun itu, tetap semangat Indonesia!!

Advertisements

End of Summertime

Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, setiap hari minggu terakhir dibulan Oktober adalah hari dimana waktu berakhirnya jam-musim-panas dan berganti menjadi waktu musim dingin (hingga hari minggu terakhir dibulan maret nanti). Daylight saving time istilah keren yang sering dipake sama negara-negara yang menerapkan waktu musim panas ini. Jadi dari hari minggu kemaren (26.10) waktu dimundurkan jadi satu jam. Bisa baca di link tadi kalau mau tau apa alasan lengkapnya. Menurut saya, alasannya simple, musim dingin matahari keluar lebih telat, jadi dengan waktu aktivitas ditelatin satu jam (misal jam 7 jadi jam 6), jadi orang-orang bisa memulai aktivitas saat matahari sudah terbit. Ini artinya menghemat konsumsi energi (contohnya penggunaan listrik untuk penerangan).

Anyway, enough with the summer time theory. Akhirnya sabtu kemaren main bola lagi setelah beberapa bulan ga main. Bareng sama anak-anak Indonesia di sini.

DSC_0051Lumayan rame, 14 orang, mudah-mudahan bukan sekedar euforia awal semester,haha, dan seperti biasa, kalau udah rame gini, cuma satu hal diakhir yang diomongin “sportfest gimana?” (dikonkritin laah,biar ga cuma wacana). Berhubung cuaca udah mulai dingin, jadi main bola outdoor udah makin susah. Jadinya kemaren main indoor di soccer arena Olympiazentrum.

This slideshow requires JavaScript.

Minggu 26.10 juga kebetulan lagi ada acara pelatihan untuk orang tua dan anak, konon katanya narasumber yang datang kali ini sangat tersohor dibidang parenting : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, atau sering dipanggil abah Ihsan. Kebetulan ikutan bantuin untuk dokumentasi acara. Alhamdulillah acaranya rame, mayoritas peserta adalah pasangan suami-istri yang berasal dari Munich dan sekitar (Nürnberg dan Augsburg), bahkan ada juga peserta yang datang dari Austria.

DSC_0212Berhubung selama acara mondar-mandir motoin peserta dan pembicara, tapi masih sempet dengerin poin-poin penting dari seminar ini. Children are not and will never be a burden for their parents. They are a gift from Allah. Walaupun seminarnya dirancang untuk orang tua, sebenernya ini juga cocok untuk kita-kita yang belum berkeluarga, yah, yang namanya ilmu ga ada batasan sebenernya, hitung-hitung nambah wawasan dan referensi untuk masa depan nanti, toh at the end of the day, all of us are going to be parents (insha Allah).

*that’s it for this week, from now on, i will try to write from one to another weekend (harus konkrit,ga boleh wacana doang!)

Another Pre-Season Tour

Well, like they did last year, this summer Manchester United re-visit Unite States of America. this pre-season tour has just started today at the Gillette Stadium in Massachusetts. Man United play their first game of the season against the home side, New England Revolution, one of the Major League Soccer members. At the end of the match, Man United manage to secure a very comfortable lead against the host team, 4-1 is the final score after being a goalless match before the half time. Michael Owen, Federico Macheda & Park Ji Sung manage their name on the score sheet. This match also become un-official debut for one of Man United new signing : Ashley Young. Man United will play their next match in the US soil next week in Seattle, as their going to spend over 2 weeks during their tour in the States. Good luck lads!! Glory Glory Man United.

the fate of football in our beloved nation

Sepakbola,soccer,football,futebol,voetbal, terserah apa namanya, olahraga terbesar di dunia, dimainkan lebih jutaan orang yang menjadikan olahraga ini sebagai profesi mereka. pemain,pelatih,agen,physioterapis,dokter,wasit hingga seorang chef dan bagian terpenting dari semua itu suporter, semua ikut serta melengkapi herarki dalam permainan “rakyat” ini. some people might say that this game could bring the highest honor for one country or even a continent. want some example ? coba lihat benua Afrika, betapa bangganya mereka ketika Kamerun dan Senegal berhasil mengukir suatu prestasi pada gelaran piala dunia. euforia, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan bangsa tersebut.

Euforia yang sama juga kita rasakan ketika tim sepakbola kebanggaan kita berhasil menembus babak final Piala AFF pada penghujung tahun 2010. betapa bangganya orang-orang meneriakkan yel-yel  IN-DO-NE-SIA sepanjang pertandingan, atau untuk pertama kalinya, banyak orang menggunakan jersey timnas merah putih, bukan hanya sekedar mengenakan, kita dibuat bangga mengenakan kostum tersebut. dilihat dari segi rancangan dan warna, ini merupakan kostum terbaik yang pernah digunakan oleh tim nasional sepakbola kita. kostum merah dengan logo garuda di dada kiri ini digunakan oleh hampir semua kalangan, anak kecil yang berlari di pinggir jalan, remaja yang  lalu lalang di mall dan bahkan para mentri kabinet pun dengan bangga menggunakan kostum ini.

Mencapai babak final kejuaran sepakbola tertinggi di region asia tenggara ini sebenarnya bukanlah hal baru bagi tim nasional kita. final di penghujung 2010 yang baru kita lewati adalah final ke 4 yang berhasil kita capai.  salah seorang wartawan senior, yesayas oktavianus juga pernah menulis hal yang sama.  jika ditanya mana diantara ke 4 final itu yang paling berkesan bagi saya, maka saya akan menjawab final yang terjadi pada tahun 2004. dalam opini saya tim pada tahun 2004 lebih baik dari sisi kemampuan pemain dibandingkan dengan tim yang ikut berkompetisi pada tahun 2010 ini. menurut saya, pemberitaan dari media sangat berperan dalam hal ini, pada tahun 2004, kita harus menggunakan televisi berbayar untuk menyaksikan turnamen yang kala itu masih bernama Tiger Cup itu. timnas yang kala itu harus bermain jauh dari kandang, jauh dari pemberitaan seperti yang terjadi belakangan ini. padahal kala itu, sosok boaz salosa (menurut saya) melakukan hal yang jauh melebihi apa yang dilakukan oleh seorang okto maniani, dengan usia yang masih 18 tahun berhasil mencetak 4 gol dan berhasil masuk ke babak final menghadapi singapura. entah mengapa tim kita sepertinya selalu mencapai performa puncak pada babak semi-final, sehingga partai final terkesan menjadi anti klimaks dari perjuangan para pemain kita. pada final 2004, kita dikalahkan oleh Singapura dalam dua pertandingan dengan skor total 5-3. mungkin tim kita terlalu cepat berpuas diri dengan hasil yang telah berhasil dicapai dan lupa bahwa masih ada perjuangan yang belum dilewati.

Lihatlah kondisi persepakbolaan negara kita pasca Piala AFF, bergulirnya LPI membuat PSSI seperti kebakaran jenggot dan mengatakan bahwa “liga oposisi” itu sebagai liga banci, paling tidak itulah kata-kata yang dilontarkan oleh sekjen PSSI ketika ditanya mengenai akan diselenggarakannya LPI. Bahkan, ketua umum federasi sepekbola kita yang tercinta ini dengan tegasnya mengatakan bahwa pemain yang ikut berkompetisi pada LPI tidak diperbpolehkan menggunakan seragam merah putih, atau tidak akan dipanggil membela timnas. Menurut saya ini merupakan reaksi yang kekanak-kanakan, pelarangan pemain membela timnas dikarenakan pemain tersebut tidak berkompetisi dibawah kompetisi yang berada dibawah PSSI, merupakan alasan yang menyedihkan bagi saya. Kostum merah-putih dengan garuda di dada itu pantas di kenakan oleh setipa putra bangsa yang bisa menampilkan permainan sepakbola dengan baik.

 

(to be continued)

Fantasy Premier League


Hei,i just signed for this game since the last 3 weeks, this is one of the most interesting online game,actually this is the first ever online game i ever played. in this game we will chose eleven players plus 4 players as substitute. usually we will chose the player according to the match fixtures for every week, so will be able to change the line up every week. unlucky for me, i was picked nani as one of my starting eleven for this weekend as he wasn’t play for Manchester United during the game against Sunderland.  For the last weekend, i also chose 2 Fulham’s Players, Brade Hangeland as centre half and mark schwarzer as goalkeeper,unfortunately they were beaten at home by west ham. the main rule of the game is the player will rewarded a higher point if their team win the game, the point will increase if he can keep clean sheet, add a goal or give an assist for a goal.

This is my line up for this midweek EPL game :

i chose pepe reina as goalkeeper since liverpool (only) will play against  Wolves, as manchester united fans, indeed, i will chose 2 players from manchester united as a part of the back four.

for the midfield line, nani has been sensational for this season, dempsey used to show some magic for fulham,barry keep the balance of city midfield line. N’zogbia, he should play for one of the big four, wigan are not enough for his talent.

For the strikers, no one will doubt about the pair. carroll is the main thread from newcastle and so does elmander.

AFF Cup 2010 : A Message to Our Beloved Football Association

Piala AFF yang dulunya dikenal dengan nama Tiger Cup kembali hadir di penghujung tahun 2010. Ajang dua tahunan ini kembali hadir dan untuk pertama kalinya berturut-turut kita (Indonesia) dipercaya oleh AFF (induk organisasi sepakbola asia tenggara) untuk menjadi tuan rumah babak penyisihan grup. Dua kota di Indonesia dipercaya menjadi penyelenggara pertandingan penyisihan grup. Jakarta dengan stadion Gelora Bung Karno dan Palembang dengan stadion Jakabaring. Pertandingan pertama dan kedua grup dilangsungkan di Jakarta, sedangkan pertandingan ketiga dilangsungkan secara bersamaan di masing-masing stadion.

Skuad baru, begitulah kira-kira kata yang tepat untuk menggambarkan ini timnas Indonesia saat ini, dihuni oleh banyak muka baru yang  merupakan campuran dari pemain-pemain muda dan hanya beberapa pemain senior yang masih dipanggil oleh pelatih baru Alfred Riedl, pria kelahiran Vienna 61 tahun yang lalu ini sudah tidak asing dengan atmosfer sepakbola di asia tenggara, sebelumnya ia pernah melatih timnas Laos dan 3 kali menjadi pelatih timnas Vietnam. Prestasi terakhir Riedl ditandai dengan berhasil membawa laos hingga ke perebutan medali perunggu, walaupun pada akhirnya dikalahkan oleh singapura [1].

Riedl membawa banyak perubahan pada penampilan tim nasional Indonesia, semenjak dipercaya menjadi pelatih pada maret 2010. Dibantu oleh asisten Wolfgang Pikal, Riedl memulai tugasnya menyusun kerangka timnas dengan melakukan pemantaun pemain-pemain yang berlaga di Liga Super. langkah berani dan memang sudah seharusnya dilakukan pelatih-pelatih sebelumnya dilakukan oleh Pria Berkumis ini, yaitu dengan tidak lagi memanggil beberapa muka lama yang sduah menghuni timnas semenjak piala asia 2004, nama-nama seperti Ponaryo Astaman, Ismed Sofyan, Isnan Ali hingga Kapten tim Charis Yulianto mulai dipinggirkan, sektor Full Back yang biasanya menjadi pos wajib bagi Ismed dikanan dan Isnan Ali di kiri kini diganti dengan wajah-wajah segar seperti Zulkifli Sukur dan Muhammad Nasuha.  Pemain-pemain muda seperti Ahmad Bustomi, Okto Maniani, Yongki Aribowo dipercaya untuk menjadi bagian dari timnas. Kredit kusus harus diberikan pada Ahmad Bustomi, Seorang Juara, Pemain andalan Arema Malang ini menjadi nyawa baru bagi lini tengah timnas, lihatlah bagaimana Dia melakukan delay dalam penguasan bola, menahan bola hingga rekan-rekannya naik menyerang, memindahkan arah serangan dari sisi kiri ke kanan, bisa dikatakan peran yang dimainkan bustomi mirip dengan yang dimainkan Paul Scholes ata Xavi Hernandez.

Perubahan lainnya yang dilakukan Riedl adalah dari sisi disiplin, baik di dalam dan di laur lapangan, kita bisa melihat kali ini pemain kita tidak mudah terprovokasi oleh pancingan-pancingan yang dilakukan oleh pemain lawan. di luar lapangan, Riedl juga menerapkan disiplin yang tinggi bagi pemainnya, penerapan denda bagi pemain yang terlambat pun diberlakukan, hingga memberikan batasan bagi pemainnya terhadap media, hal ini menurut saya merupakan hal-hal kecil yang selama ini dilupakan oleh pelatih timnas sebelumnya. Pembatasan akses pemain dengan media memang diperlukan ketika suatu tim berlaga pada suatu turnamen, kita bisa ambil pelajaran dengan apa yang terjadi pada timnas Inggris ketika berlaga di piala dunia 2010 kemaren, media inggris sangat yakin bahwa tim mereka benar-benar bisa membawa kembali sepakbola “kerumahnya”,namun apa yang terjadi sepanjang musim panas 2010 yang lalu bertolak belakang, barisan superstar EPL pada tim tiga singa itu tampil layaknya macan ompong di tengah kerasnya kompetisi di tanah afrika.Warna lain juga bisa kita lihat pada susunan pemain yang ada saat ini, dengan tambahan 2 orang pemain”asing” timnas kini lebih berwarna. bagi saya Irfan Bachdim bukanlah orang asing, ia adalah putra bangsa yang  “numpang” lahir di tanah belanda. Kehadiran Christian”Mustaffa Habibi” Gonzalez menurut saya merupakan hasil kesalahan pengembangan liga yang dilakukan oleh PSSI, dengan kebijakan 5 pemain asing pada setiap klub di Liga, kita bisa melihat bahwa hampir setiap tim di Liga menggunakan paling tidak 1 jatah pemain asing itu untuk pemain dengan posisi striker, sialnya ada beberapa klub yang menggunakan 2 striker asing pada tim mereka, hal ini akan sangat membunuh potensi “predator” muda yang dimiliki bangsa ini. Namun, dengan segala hormat, saya menaruh hormat setinggi-tingginya dengan keberadaan orang-orang “luar” ini, bagi saya mereka adalah katalis bagi suatu reaksi kimia, rekasi keberhasilan. bahkan klub sekelas Manchester United membutuhkan sosok Eric Cantona sebagai katalis dari keberhasilan mereka mendominasi EPL di era 90an. Kita yang asli Indonesia seharusnya bisa mengambil pelajaran dari mereka, bagaimana cara mereka bermain. mungkin belum ada pemain kita yang bisa melakukan teknik tendangan jarak jauh se akurat yang dilakukan gonzalez pada leg ke 2 semi final AFF cup kemaren.

satu hal lagi yang harus kita pelajari adalah, KOMENTATOR, lihatlah dan dengarlah bagaimana reksi dari komentator asing terhadap suatu gol, hal itu masih sangat perlu dipelajari oleh komentator lokal kita. Untuk PSSI, jagalah euforia ini, jangan biarkan api semangat permainan tim ini padam, mulailah merancang program yang terencana untuk timnas kita tercinta ini, adakan pertandingan uji coba internasional yang rutin, tidak perlu muluk-muluk untuk mendatangkan negara-negara besar seperti brazil atau pantai gading, dengan segala hormat, belum saatnya kita berhadapan dengan mereka, masih banyak tim-tim lain di belahan asia ini yang bisa kita jadikan lawan uji tanding dna tentunya tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk mendatangkan mereka. Euforia yang sama pernah kita rasakan pada piala Asia 2007, penonton sangat bersemangat dan timnas pun bermain sangat bagus pada turnamen tersebut, kalaupun kita gagal lolos dari fase grup, kita juga harus sadar diri, bahwa dua tim yang lolos grup merupakan langganan piala dunia dari zona asia, tidak perlu menundukkan kepala dan malu pada saat itu. Namun apa yang terjadi pasca Piala Asia 2007 ? timnas pun jarang melakukan pertandingan uji coba, kalaupun bertanding itu lebih dikarenakan jadwal pertandingan wajib yang harus dipenuhi, seperti pra kualifikasi Piala Dunia atau kualifikasi Piala Asia, mungkin setelah piala asia 2007 hanya ada dua pertandingan besar yang dilakukan oleh timnas Indonesai, yaitu melawan Borussia Dortmound pada 19 Desember 2007 dan melawan Bayern Munchen pada 21 Mei 2008. hal inilah yang harus dirubah oleh PSSI jika ingin menjaga konsistensi permainan dari timnas kita. maju terus sepakbola nasional, Garuda akan Selalu Didadaku!!!

Goal Fest

until the 4th day of the tournament, it was the best match.

the german youngster succesfully beat the socceroos.

it was a good game from the turkish born spielmacher, almost got the scoresheet for his name..

but it was not a tournament to remember for england shoot stopper robert green, he failed to catch clint dampsey’s shoot from outside the penalty box.

wish you a good game againts algeria & slovenia,robert.