ada yang salah dengan sepakbola kita (part 1)

Tulisan ini bukan bermaksud untuk mencari “kambing hitam” atas “miskin”nya prestasi sepakbola di negara tercinta ini. ini lebih dikarenakan saya merasa heran dengan pencapaian prestasi sepakbola di negara ini. sejak menggemari  sepakbola pada tahun 90an akhir, jujur saya tidak melihat perkembangan yang signifikan dari persepakbolaan kita.  bisa dikatakan tidak  (belum) ada prestasi yang bisa dibanggakan dari ranah sepakbola. secara kuantitas (mungkin) kita memilki liga terbesar di kawasan asia tenggara, dengan jumlah peserta 18 klun untuk divisi teratas dan masih ada 4 divisi dibawah. liga sepakbola profesional mulai dikenalkan oleh PSSI pada tahun 1994, hal ini menandai diakhirinya era liga perserikatan dan liga galatama. liga perserikatan merupakan liga yang mewadahi kompetisi antar klub amatir di indonesia, contoh mudah klub-klub yang masuk ke dalam golongan liga perserikatan adalah klub-klub yang memiliki nama depan Per atau PS (contoh PSPS atau Persemai). Sedangkan liga galatama merupakan kelompok liga yang mewadahi liga semi-pro di tanah air. Jika dilihat dari segi usia,liga perserikatan sudah dimulai dari tahun 1931, artinya bangsa ini memiliki usia liga sepakbola yang lebih tua dari usia negara yang kita cintai ini.

Dengan usia kompetisi yang mencapai 80 tahun, seharusnya kita memiliki track record sepakboal yang bisa dibanggakan. namun, faktanya hanya ada 3 hal yang selalu di agung-agungkan dari 80 tahun sejarah sepakbola kita, yaitu : menahan imbang Uni Soviet pada Olimpiade 1956 di melbourne dan keikutsertaan pada piala dunia 1938 di prancis, dibawah nama hindia belanda. pantaskah kita bangga dengan prestasi di melbourne 56? dari keseluruhan kompetisi, India berhasil maju hingga ke perebutan medali perunggu. satu-satunya gelar yang berhasil kita raih dalam hitungan dua dekade terakhir adalah medali emas pada SEA-Games Manila 1991. selain 3 hal itu, pasukan merah putih (kebanyakam) puas untuk berdiri di podium ke 2 di setiap kompetisi yang diikuti.

Sangat miris memang ketika kita melihat fakta bahwa tim U-10 dan U-12 yang mewakili Indonesia di beberapa kejuaran antar negara, sebut saja pada hajatan tahunan Danone Nations Cup dimana setiap tahun selalu ada prestasi yang bisa kita banggakan dari anak-anak bangsa yang ikut berkompetisi disana, kita mampu bersaing dengan negara-negara besar dalam sepakbola. salah satu prestasi yang membanggakan berhasil diraih pada tahun 2005, ketika seorang bocah asal Makassar bernama Irvin Museng yang berhasil menjadi top scorer pada tahun tersebut, bahkan pasca turnamen Irvin mendapat beasiswa 1 tahun di akademi sepakbola Ajax Amsterdam. disinilah kemirisan itu dimulai, bangsa ini sangat kaya dengan talenta U-10 dan U-12, namun ketika naik sedikit saja ke level U-17 atau U-19 yang merupakan level terakhir sebelum masuk level senior, mereka terkesan mandeg. apa yang terjadi pada selisih usia 12 tahun ke 19 tahun tadi ? prestasi tadi seakan menguap dengan bertambahnya usia. Satu-satunya jawaban untuk pertanyaan ini adalah pembinaan usia muda. di negara-negara sepakbola modern, semisal inggris, jerman, atau belanda, mereka memiliki tingkat kompetisi yang jelas dari U-12 hingga U-21, ketika seorang pemain menginjak usia 17 tahun, mereka akan mendapat kesempatan magang di tim cadangan dari klub yang mereka ikuti. sehingga mereka akan rutin berkompetisi untuk menjaga kualitas penampilan dan skill mereka. ambil contoh akademi sepakbola manchester united di carrington, dimana para pemain muda sudah mulai dilatih dari usia awal belasan tahun hingga akhir belasan. mereka berkompetisi rutin di setiap tingkat umur, hingga sebelum masuk tim utama, mereka diberi kesempatan sebagai pemain magang di tim cadangan yang juga memiliki kompetisi khusus antara sesama tim cadangan di inggris. hasilnya ? kita bisa lihat dari era 1950an ketikan United memiliki pemain seperti Duncan Edwards, Sir Bobby Charlton hingga si super star George Best pada era 1980an dan 1990an  ketika mereka menghasilkan pemain seperti Mark Hughes, David Beckham, Ryan Giggs, Paul Scholes hingga era 2000an ketika pemain seperti Gerrard Pique, Jhony Evans, Kieran Richardson dan Phil Bardsley lulus dari akademi dan menjadi bagian dari tim utama sebelum akhirnya pindah demi mendapatakan posisi reguler disetiap pertandingan. percayalah, seorang irvin museng ketika berusia 12 tahun tidak kalah dengan ryan giggs ketika di usia yang sama.

Kondisi terkini tim nasional sepakbola kita, kini sudah ada pemain naturalisasi, Gonzales. bagi saya bachdim bukanlah pemain naturalisasi, dia adalah anak bangsa yang kebetulan lahir di negeri orang. hal ini merupakan hasil kebobrokan sistem kompetisi yang dikelola oleh federasi kita. peraturan 5 orang pemain asing untuk setiap klub yang ikut berkompetisi di liga telah membunuh bakat-bakat lokal yang dimiliki oleh bangsa ini. dengan jatah 5 pemain, sudah pasti akan diisi untuk posisi pemain belakang, pemain tengah, dan pemain depan. sialnya ada klub (hampir selurh peserta ISL) yang menggunakan jatah tersebut untuk 2 orang pemain belakang, 2 orang striker dan 1 lagi biasanya dijatahkan untuk pemain tengah kreatif (playmaker). dengan posisi kunci dari permainan sudah diisi oleh orang asing, dimana pemain kita akan bermain ? jawabannya sudah pasti, pemain jangkar atau istilah modernnya “gelandang angkat air” yang lebih mengandalkan kemampuan fisik dibanding kemampuan teknik sepakbola. jumlah pemain depan “lokal” dengan kemampuan mumpuni sudah semakin sedikit, setelah era bambang pamungkas, kita cuma punya boaz solossa, bagi saya Yongki aribowo belum terlalu teruji pada top level. pemain tengah, kita cuma punya 3 pemainyang bisa dikategorikan sebagai playmaker : firman utina, eka ramdani dan ahmad bustomi. dengan kompetisi berlabel profesional, persaingan antar bangsa di lapangan hijau adalah hal yang legal. namun dalam hal ini seharusnya federasi sepakbola kita bisa melindungi bakat-bakat lokal dengan membatasi jumlah pemain asing yang ikut. oke, 5 orang boleh saja tiap klub, tapi seharusnya dibatas dengan peraturan seperti 3+2, dari 5 pemain asing maksimal 3 pemain yang boleh ikut bermain dilapangan. yang saat ini berlaku di liga super  memang 3+2, dimana 2 dari 5 pemain asing harus berasal dari negara asia. tetap saja jumlah pemain asing yang berada dilapangan adalah 5 orang.

Advertisements

One thought on “ada yang salah dengan sepakbola kita (part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s