AFF Cup 2010 : A Message to Our Beloved Football Association

Piala AFF yang dulunya dikenal dengan nama Tiger Cup kembali hadir di penghujung tahun 2010. Ajang dua tahunan ini kembali hadir dan untuk pertama kalinya berturut-turut kita (Indonesia) dipercaya oleh AFF (induk organisasi sepakbola asia tenggara) untuk menjadi tuan rumah babak penyisihan grup. Dua kota di Indonesia dipercaya menjadi penyelenggara pertandingan penyisihan grup. Jakarta dengan stadion Gelora Bung Karno dan Palembang dengan stadion Jakabaring. Pertandingan pertama dan kedua grup dilangsungkan di Jakarta, sedangkan pertandingan ketiga dilangsungkan secara bersamaan di masing-masing stadion.

Skuad baru, begitulah kira-kira kata yang tepat untuk menggambarkan ini timnas Indonesia saat ini, dihuni oleh banyak muka baru yang  merupakan campuran dari pemain-pemain muda dan hanya beberapa pemain senior yang masih dipanggil oleh pelatih baru Alfred Riedl, pria kelahiran Vienna 61 tahun yang lalu ini sudah tidak asing dengan atmosfer sepakbola di asia tenggara, sebelumnya ia pernah melatih timnas Laos dan 3 kali menjadi pelatih timnas Vietnam. Prestasi terakhir Riedl ditandai dengan berhasil membawa laos hingga ke perebutan medali perunggu, walaupun pada akhirnya dikalahkan oleh singapura [1].

Riedl membawa banyak perubahan pada penampilan tim nasional Indonesia, semenjak dipercaya menjadi pelatih pada maret 2010. Dibantu oleh asisten Wolfgang Pikal, Riedl memulai tugasnya menyusun kerangka timnas dengan melakukan pemantaun pemain-pemain yang berlaga di Liga Super. langkah berani dan memang sudah seharusnya dilakukan pelatih-pelatih sebelumnya dilakukan oleh Pria Berkumis ini, yaitu dengan tidak lagi memanggil beberapa muka lama yang sduah menghuni timnas semenjak piala asia 2004, nama-nama seperti Ponaryo Astaman, Ismed Sofyan, Isnan Ali hingga Kapten tim Charis Yulianto mulai dipinggirkan, sektor Full Back yang biasanya menjadi pos wajib bagi Ismed dikanan dan Isnan Ali di kiri kini diganti dengan wajah-wajah segar seperti Zulkifli Sukur dan Muhammad Nasuha.  Pemain-pemain muda seperti Ahmad Bustomi, Okto Maniani, Yongki Aribowo dipercaya untuk menjadi bagian dari timnas. Kredit kusus harus diberikan pada Ahmad Bustomi, Seorang Juara, Pemain andalan Arema Malang ini menjadi nyawa baru bagi lini tengah timnas, lihatlah bagaimana Dia melakukan delay dalam penguasan bola, menahan bola hingga rekan-rekannya naik menyerang, memindahkan arah serangan dari sisi kiri ke kanan, bisa dikatakan peran yang dimainkan bustomi mirip dengan yang dimainkan Paul Scholes ata Xavi Hernandez.

Perubahan lainnya yang dilakukan Riedl adalah dari sisi disiplin, baik di dalam dan di laur lapangan, kita bisa melihat kali ini pemain kita tidak mudah terprovokasi oleh pancingan-pancingan yang dilakukan oleh pemain lawan. di luar lapangan, Riedl juga menerapkan disiplin yang tinggi bagi pemainnya, penerapan denda bagi pemain yang terlambat pun diberlakukan, hingga memberikan batasan bagi pemainnya terhadap media, hal ini menurut saya merupakan hal-hal kecil yang selama ini dilupakan oleh pelatih timnas sebelumnya. Pembatasan akses pemain dengan media memang diperlukan ketika suatu tim berlaga pada suatu turnamen, kita bisa ambil pelajaran dengan apa yang terjadi pada timnas Inggris ketika berlaga di piala dunia 2010 kemaren, media inggris sangat yakin bahwa tim mereka benar-benar bisa membawa kembali sepakbola “kerumahnya”,namun apa yang terjadi sepanjang musim panas 2010 yang lalu bertolak belakang, barisan superstar EPL pada tim tiga singa itu tampil layaknya macan ompong di tengah kerasnya kompetisi di tanah afrika.Warna lain juga bisa kita lihat pada susunan pemain yang ada saat ini, dengan tambahan 2 orang pemain”asing” timnas kini lebih berwarna. bagi saya Irfan Bachdim bukanlah orang asing, ia adalah putra bangsa yang  “numpang” lahir di tanah belanda. Kehadiran Christian”Mustaffa Habibi” Gonzalez menurut saya merupakan hasil kesalahan pengembangan liga yang dilakukan oleh PSSI, dengan kebijakan 5 pemain asing pada setiap klub di Liga, kita bisa melihat bahwa hampir setiap tim di Liga menggunakan paling tidak 1 jatah pemain asing itu untuk pemain dengan posisi striker, sialnya ada beberapa klub yang menggunakan 2 striker asing pada tim mereka, hal ini akan sangat membunuh potensi “predator” muda yang dimiliki bangsa ini. Namun, dengan segala hormat, saya menaruh hormat setinggi-tingginya dengan keberadaan orang-orang “luar” ini, bagi saya mereka adalah katalis bagi suatu reaksi kimia, rekasi keberhasilan. bahkan klub sekelas Manchester United membutuhkan sosok Eric Cantona sebagai katalis dari keberhasilan mereka mendominasi EPL di era 90an. Kita yang asli Indonesia seharusnya bisa mengambil pelajaran dari mereka, bagaimana cara mereka bermain. mungkin belum ada pemain kita yang bisa melakukan teknik tendangan jarak jauh se akurat yang dilakukan gonzalez pada leg ke 2 semi final AFF cup kemaren.

satu hal lagi yang harus kita pelajari adalah, KOMENTATOR, lihatlah dan dengarlah bagaimana reksi dari komentator asing terhadap suatu gol, hal itu masih sangat perlu dipelajari oleh komentator lokal kita. Untuk PSSI, jagalah euforia ini, jangan biarkan api semangat permainan tim ini padam, mulailah merancang program yang terencana untuk timnas kita tercinta ini, adakan pertandingan uji coba internasional yang rutin, tidak perlu muluk-muluk untuk mendatangkan negara-negara besar seperti brazil atau pantai gading, dengan segala hormat, belum saatnya kita berhadapan dengan mereka, masih banyak tim-tim lain di belahan asia ini yang bisa kita jadikan lawan uji tanding dna tentunya tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk mendatangkan mereka. Euforia yang sama pernah kita rasakan pada piala Asia 2007, penonton sangat bersemangat dan timnas pun bermain sangat bagus pada turnamen tersebut, kalaupun kita gagal lolos dari fase grup, kita juga harus sadar diri, bahwa dua tim yang lolos grup merupakan langganan piala dunia dari zona asia, tidak perlu menundukkan kepala dan malu pada saat itu. Namun apa yang terjadi pasca Piala Asia 2007 ? timnas pun jarang melakukan pertandingan uji coba, kalaupun bertanding itu lebih dikarenakan jadwal pertandingan wajib yang harus dipenuhi, seperti pra kualifikasi Piala Dunia atau kualifikasi Piala Asia, mungkin setelah piala asia 2007 hanya ada dua pertandingan besar yang dilakukan oleh timnas Indonesai, yaitu melawan Borussia Dortmound pada 19 Desember 2007 dan melawan Bayern Munchen pada 21 Mei 2008. hal inilah yang harus dirubah oleh PSSI jika ingin menjaga konsistensi permainan dari timnas kita. maju terus sepakbola nasional, Garuda akan Selalu Didadaku!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s